Tampilkan postingan dengan label PROPERTI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROPERTI. Tampilkan semua postingan

Kelas Menengah Tanggung, Harga Rumah Selangit, dan DP 0 Persen



Mencari rumah, ibarat mencari pasangan hidup. Tidak saja harus sesuai dengan impian, dan kondisi sosial, melainkan juga pendapatan.
Kondisi kantong bisa dibilang merupakan hal yang paling menentukan. Bila sudah mendapatkan yang sesuai impian, kantong-lah yang kemudian menyelesaikan urusan.
Sebaliknya, impian yang sudah disusun sedemikian rupa bakal buyar seketika jika dana yang dimiliki tak memungkinkan. 


Kejadian seperti ini seringkali dialami kelas menengah tanggung. Mereka yang berpendapatan Rp 7 juta ke atas, namun masih di bawah Rp 10 juta per bulan kerap kepentok batas-batas psikologis ketika akan membeli rumah.
Kenapa disebut kelas menengah tanggung? Karena ambang penghasilan maksimal yang bisa disubsidi pemerintah adalah Rp 4 juta untuk pembeli rumah tapak pertama, dan Rp 7 juta untuk pembeli rumah susun pertama.

Mereka yang berpenghasilan maksimal Rp 4 juta hingga Rp 7 juta dikategorikan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebagai sasaran program subsidi alias Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pemerintah.

Sementara mereka yang berpenghasilan di atas 7 juta, mulai dari Rp 7,05 juta tidak berhak atas subsidi FLPP. Di sisi lain, jika harus membeli rumah dengan harga di atas ambang subsidi, mereka tak akan sanggup.

"Gaji saya Rp 7,5 juta per bulan, mau beli rumah yang sisubsidi pemerintah, terganjal syarat-syarat KPR. Mau beli rumah di atas harga subsidi nggak sanggup, karena cicilan per bulan melebihi sepertiga gaji," papar Randy saat ditemui KompasProperti, Sabtu (22/4/2017).

Padahal, populasi sejenis Randy dan kelas menengah tanggung lainnya tak kalah banyak dibanding MBR. Data Bank Dunia menunjukkan kelas menengah berpendapatan Rp 5,2 juta (389 dollar AS) hingga Rp 7,8 juta (584 dollar AS) sebanyak 11,7 persen dari total 245 juta jiwa.

Jumlah lebih sedikit atau 5 persen di bawahnya adalah masyarakat yang berpenghasilan antara Rp 7,8 juta (584 dollar AS) hingga Rp 13 juta (974 dollar AS).
Kelas menengah Indonesia, kata Bank Dunia, terus tumbuh dari nol persen penduduk pada tahun 1999 menjadi 6,5 persen pada 2011 atau setara dengan lebih dari 130 juta orang. 
Pada tahun 2030, jumlah kelas menengah diperkirakan akan melesat menjadi 141 juta orang.

Harga selangit
Situs Rumah123 pernah melakukan survei harga rumah yang bisa diakses kalangan menengah tanggung ini.
Menurut Country Head Rumah123 Ignatius Untung, kenaikan pendapatan kelas menengah tidak bisa mengejar laju peningkatan harga rumah.
Jika ditelusuri secara historis sejak 2009-2012 yang merupakan era ledakan (booming) properti, kenaikan harga rumah bisa mencapai 200 persen, atau 50 persen per tahun.

Untung memprediksi peningkatan harga rumah dalam lima tahun mendatang sekitar 150 persen, sementara kenaikan pendapatan hanya 60 persen dalam periode yang sama.

Dengan estimasi kenaikan minimal 20 persen per tahun, harga rumah yang saat ini dipatok Rp 300 juta akan menjadi Rp 750 juta pada 2020.
"Bandingkan dengan kisaran penghasilan kelas menengah tanggung. Kenaikan 5 persen saja sudah merupakan anugerah yang terindah," kata Untung.

Untuk dapat mencicil rumah harga termurah Rp 300 juta, dibutuhkan pendapatan minimal Rp 7,5 juta per bulan.
Sedangkan harga di atasnya yakni Rp 350 juta hingga Rp 400 juta dibutuhkan pendapatan setidaknya Rp 9 juta.

Di mana kita bisa mendapatkan rumah seharga Rp 300 juta di Jakarta yang bisa diakses oleh kelas menengah tanggung? 

"Jangan bayangkan rumah di gang-gang senggol yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki atau satu kendaraan roda dua," kata Untung.

Bayangkanlah rumah yang "diidam-idamkan" lengkap dengan berbagai fasilitas penunjang, atau setidaknya dapat meningkatkan kualitas hidup penghuninya.
Bayangkanlah juga rumah yang bisa dibeli dengan menggunakan fasilitas kredit (KPR) perbankan.
Fasilitas penunjang di sini, tentu saja bukan sekelas yang ada di perumahan elite Kota Wisata, BSD City, Summarecon Serpong, Lippo Village, atau Pondok Indah.
Fasilitas penunjang tersebut adalah fasilitas minimal yang biasanya disediakan pengembang untuk perumahan sederhana, seperti taman bermain, jalur pedestrian, dan akses lingkungan yang bisa dilalui kendaraan roda empat.

Dari survei yang dilakukan KompasProperti dalam beberapa hari terakhir, tidak ada pengembang perumahan tapak di Jakarta yang membanderol harganya sekitar Rp 300 juta per unit.

Perumahan Metland Menteng saja yang berlokasi di ujung Jakarta Timur, harganya sudah mencapai Rp 1,9 miliar untuk luas bangunan 60 meter persegi dan luas lahan 160 meter persegi. 

Perumahan Jakarta Garden City, juga berlokasi di ujung Jakarta Timur, dibanderol Rp 1,9 miliar per unit terkecil.
Kedua proyek ini merupakan perumahan tapak di dalam kota Jakarta yang masih dipasarkan dan dikembangkan hingga saat ini.

Sementara rumah-rumah dengan harga di bawah Rp 1 miliar per unit mengarah ke luar Jakarta. Di Cilebut Residence, Kabupaten Bogor, contohnya, rumah dengan ukuran terkecil 38/84, harganya sudah tembus Rp 515 juta.
Harga ini ditetapkan untuk tunai keras, sementara untuk bisa diakses melalui KPR, harganya bisa mencapai Rp 535 juta.
Di Greenland Residence, juga di Kabupaten Bogor, hunian seluas 38/72 dipatok seharga Rp 552,5 juta tunai, dan Rp 562,5 juta dengan KPR.
Di Grand Depok City, Depok, harga rumah tipe terbaru klaster Anggrek 2 sudah menyentuh angka Rp 800 jutaan.

Konsep yang jelas

Menyediakan rumah layak huni dan terjangkau untuk rakyat, jelas membutuhkan visi, misi, serta konsep yang jelas. Tidak sekadar menjual program gimmick seperti Program Uang Muka atau down payment (DP) 0 Persen.
Dosen Kelompok Keahlian Perumahan Permukiman Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SKPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Jehansyah Siregar, menuturkan, pemerintah provinsi (pemprov)-nya harus menyiapkan program-program perumahan dan permukiman yang komprehensif dan terpadu.

Program DP 0 Persen hanya bisa ditujukan untuk rumah komersial dengan skema rumah milik.
"Urusan perumahan tidak bisa diselesaikan dengan solusi pembiayaan DP 0 persen," tambah dia.
Jadi, DP 0 persen seharusnya tidak dijadikan sebagai program utama, melainkan digunakan jika diperlukan saja.

"Mereka harus bisa menghadirkan keterpaduan antar-sektor seperti permukiman, pertanahan dan pengairan, maupun keterpaduan antar-tingkatan Pemprov DKI dan pemerintah pusat," ujar Jehansyah.
Selain itu, Jakarta juga perlu memiliki lembaga seperti Housing and Development Board (HDB), dan Urban Redevelopment Authority (URA) yang berjalan di Singapura.

"Kedua lembaga pemerintah ini dikenal sangat profesional dan bekerja dengan dedikasi yang tinggi untuk kota-kota yang berkelanjutan," ucap dia.
Lebih dari itu, kata Jehansyah, Pemprov DKI harus bisa menyediakan solusi untuk menyelesaikan kekurangan rumah, terlebih menata kampung kumuh, memukimkan kembali warga tergusur, penyediaan kawasan baru, dan juga rumah susun sewa (rusunawa) baru.
Di samping mengembangkan ragam pilihan hunian, baik rumah umum dan rumah swadaya dengan skema rumah sewa maupun hak pakai jangka panjang.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang dan Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) Anton R Santosa juga mengatakan hal senada.
Dia pesimistis Program Uang Muka atau Down Payment (DP) 0 Persen bisa direalisasikan. Pasalnya, di dalam program tersebut banyak biaya yang harus disubsidi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Tentu saja, itu bakal memberatkan APBD DKI Jakarta.

"Secara prinsip sangat tidak memungkinkan. Karena, dalam program itu ada biaya notaris, biaya bank, provisi, dan lain-lain. Nah, itu saja harus disubsidi oleh pemerintah. Padahal itu untuk kepentingan akta jual beli," jelas Anton kepada KompasProperti, Sabtu (22/4/2017).
Selain itu, Anton juga mempertanyakan banyaknya anggaran untuk menalangi subsidi rumah tersebut lantaran DP-nya sebesar Rp 52,5 juta untuk rumah susun (rusun) seharga Rp 350 juta.

Persoalan berikutnya terkait aspek legal lahan yang digunakan untuk membangun hunian. Di Jakarta, sudah tidak tersedia lahan kosong dengan harga murah. Kalau pun tersisa, adalah milik Pemprov DKI.

"Mana ada pengembang yang mau membangun properti di atas aset Pemprov? Karena propertinya nanti nggak bisa dijual. kalau dijual, mereka bisa digugat di pengadilan. Ini masalah lagi," kata Anton

Sumber : Kompas.com

Manado Catat Kenaikan Harga Rumah Tertinggi se-Indonesia


Kondisi lingkungan Villa Kencana Cikarang(Dokumentasi Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)

Harga properti residensial mengalami kenaikan pada kuartal I-2017 dibanding kuartal IV-2016. Selain secara kuartalan, survei harga properti residensial Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan terjadi peningkatan secara tahunan dibanding tahun lalu dalam periode yang sama.

Peningkatan harga terutama terjadi pada rumah tipe kecil sebesar 3,86 persen dibandigkan tahun lalu. "Secara kuartalan, harga properti residensial meningkat dari 0,37 persen menjadi 1,23 persen. Secara tahunan meningkat dari 2,38 persen menjadi 2,62 persen," tulis survei BI.

Kenaikan harga bahan bangunan dan upah pekerja masih menjadi faktor utama penyebab kenaikan harga rumah. Berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah secara total atau seluruh tipe terjadi di Manado yakni 9,37 persen.

Disusul oleh Surabaya sebesar 8,13 persen dan Bandung 5,41 persen untuk total persentase kenaikan harga rumah keseluruhan.

Surabaya mencatatkan kenaikan harga tertinggi untuk tipe rumah kecil. Kenaikan pada tipe ini mencapai 12,07 persen pada kuartal I-2017.

Angka tersebut jauh melampaui kota-kota lainnya yang mengalami kenaikan harga tidak lebih dari 7 persen untuk tipe yang sama.

Setelah Surabaya, kenaikan tertinggi untuk tipe rumah kecil terjadi di Banjarmasin sebesar 6,51 persen.

Adapun bila dibandingkan kuartal IV-2016, kenaikan harga rumah di Surabaya sebesar 9,27 persen.

Angka ini juga jauh mengungguli kota lainnya, seperti di Bandung dengan kenaikan hanya 7.58 persen.

Sementara itu, untuk tipe rumah menengah, kenaikan harga di Surabaya tercatat 7,18 persen yang naik tipis dari kuartal sebelumnya sebesar 7,12 persen.

Berbeda dengan tipe rumah kecil, kenaikan harga rumah tipe menengah di Surabaya kalah dengan Manado.

Persentase kenaikan harga di Manado adalah 17,9 persen pada kuartal ini dan 15,64 persen pada kuartal sebelumnya.

Begitu pula pada tipe rumah besar, Manado mencatat kenaikan harga tertinggi dibanding kota-kota lainnya, yakni 8,31 persen.


Posisi kedua diikuti oleh Bandung dengan kenaikan harga 5,52 persen untuk tipe rumah besar.

Sumber : Kompas.com

Luar Biasa. Hindari Kredit, Orang Medan Lebih Suka Beli Apartemen secara Kontan


Orang Medan lebih suka membeli apartemen secara kontan atau tunai bertahap.
AVP Marketing Podomoro City Deli Medan (PCDM) Yenti Lokat mengungkapkan hal tersebut menjawab KompasProperti, Jumat (19/5/2017).

Menurut Yenti, dari 70 persen apartemen dan kondominium dari total jumlah 3.000 unit di kawasan pengembangan PCDM yang sudah terjual, dibeli secara tunai keras atau hard cash. Sebanyak 20 persen lainnya kontan bertahap.

"Yang membeli dengan menggunakan fasilitas kredit pemilikan apartemen (KPA) hanya sejumlah 5 persen hingga 10 persen," tutur Yenti.

Dia menambahkan, porsi 5-10 persen ini pun bukan orang Medan, melainkan mereka yang berdomisili di luar kota seperti Palembang, Jakarta, Balikpapan, dan lainnya.

Sedangkan sebagian besar lainnya merupakan orang Medan atau mereka yang berdomisili di wilayah lainnya di Sumatera Utara dengan profesi pengusaha komoditas macam kelapa sawit, karet, dan pedagang.

Mereka menghindari pembelian secara kredit, karena dianggap lebih rumit, ribet, dan terlalu banyak persyaratan dari bank yang harus dipenuhi.
Menariknya, kata Yenti, orang-orang kaya Medan ini membeli apartemen bukan satu-dua unit, melainkan minimal 4 unit dalam sekali pembelian. Bahkan, ada yang memborong satu lantai hingga dua lantai.

Selain untuk investasi, unit-unit tersebut diperuntukan bagi anak-anak, keluarga, dan juga kerabat dekat.

Bagi orang Medan, tambah Yenti, tinggal dalam satu atap dengan keluarga besar itu merupakan parameter kebahagiaan sekaligus kesuksesan.
"Makanya, saat kami melansir PCDM perdana pada 2014 lalu, dalam satu hari bisa laris sekaligus 1.500 unit," ungkap Yenti.

Harga per unit apartemen dan kondominium PCDM yang dibanderol pun tak bisa dibilang murah, yakni serentang Rp 800 juta hingga rp 4 miliar. 
Oleh karena itu, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) selaku pengembang berani mematok target Rp 1,2 triliun penjualan sisa 30 persen unit PCDM hingga akhir tahun.

Sumber : Kompas.com

Program Sejuta Rumah Belum Menjawab Masalah Perumahan di Perkotaan


Salah contoh rumah tipe 25/60 di Villa Kencana Cikarang yang diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kamis (4/5/2017).(Arimbi Ramadhiani/Kompas.com)

Rencana pemerintah membangun sejuta rumah, termasuk rumah tapak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dinilai belum menjawab persoalan masyarakat urban yang tinggal di kota besar.

Lokasi perumahan yang jauh, menjadi masalah sendiri bagi mereka yang bekerja di kota untuk memiliki rumah. Mereka harus menempuh waktu lebih lama untuk dapat menjangkau lokasi perkantoran.

"Program Sejuta Rumah hanya menjadi solusi sebagian, bagi kelompok menengah yang mampu menjangkau cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Dan mereka tidak bekerja di pusat kota," kata Dosen Kelompok Keahlian Perumahan Permukiman Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SKPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Jehansyah Siregar, saat dihubungi KompasProperti, beberapa waktu lalu.

Jehansyah pun mafhum dengan lokasi jauh yang dipilih sebagai area untuk membangun kawasan perumahan itu. Pasalnya, bila memilih kawasan yang dekat dengan perkotaan, harga perolehan lahan cukup tinggi.

"Rumah sederhana tapak hanya bisa dibangun di luar kota yang harga tanahnya sekitar Rp 100.000 per meter persegi. Kalau di kota-kota besar di Indonesia ya sudah susah, harga tanah saja sudah Rp 1.000.000 per meter persegi," kata dia.
Untuk diketahui, berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), realisasi pembangunan program sejuta rumah antara Januari-April 2017 sebanyak 169.614 unit. Jumlah itu terdiri dari 155.408 unit rumah bagi MBR dan 14.206 unit bagi non-MBR.

Menurut Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin, capaian tersebut lebih baik dibanding sebelum program Sejuta Rumah digulirkan. Biasanya, pada periode yang sama, jumlah rumah yang dibangun lebih kecil.

"Ini sudah bagus kenaikannya, dari belasan ribu unit menjadi ratusan ribu unit. Nanti Juni-Agustus akan makin meningkat, sama seperti tahun lalu," kata Syarif saat acara Property and Mortgage Summit 2017, di Hotel Indonesia, Selasa (16/5/2017).

Sumber : Kompas.com